Perusahaan IT besar seperti Tata Consultancy Services dan Larsenand&Toubroneed berjuang untuk mengisi puluhan ribu posisi karena kesenjangan keterampilan ini, yang mengancam daya saing global mereka.
Menurut estimasi industri, sektor teknologi India akan membutuhkan lebih dari 1 juta insinyur dengan AI tingkat lanjut dan keterampilan teknologi lainnya dalam 2-3 tahun ke depan. Permintaan tersebut menyoroti kesenjangan keterampilan yang cukup besar yang harus diatasi oleh sistem pendidikan dan pelatihan saat ini. Sangeeta Gupta dari National Association of Software and Service Companies (NASSCOM) menekankan perlunya pelatihan ulang yang berkelanjutan, karena lulusan perguruan tinggi baru hanya dapat mengisi seperempat dari peran tingkat lanjut ini.
Sektor ini, yang mempekerjakan sekitar 5,4 juta orang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB India, menghadapi tantangan kritis dalam mencocokkan keterampilan tenaga kerja dengan persyaratan pekerjaan. Perusahaan TI besar seperti Tata Consultancy Services dan Larsen and Toubro sudah berjuang untuk mengisi ribuan posisi karena ketidaksesuaian ini, yang dapat merugikan mereka dibandingkan pesaing global.
Mengapa hal ini penting?
Akar permasalahannya terletak pada sistem pendidikan India, yang membutuhkan lebih banyak pengembangan keterampilan praktis. NASSCOM memperkirakan kesenjangan bakat digital akan melebar dari 25% menjadi 29% pada tahun 2028, sehingga memperburuk masalah tersebut.





