Menjelajahi lanskap perkotaan yang ramai bukanlah hal yang mudah, dengan gedung yang menjulang tinggi di setiap sisi dan jaringan beton. teknologi navigasi tradisional sering kali tidak memadai.
Sinyal GPS terhalang, pantulan mendistorsi data, dan banyaknya infrastruktur perkotaan menciptakan apa yang para ahli sebut sebagai efek “jurang perkotaan”. Untuk mengimbangi tuntutan sistem transportasi cerdas (ITS), sistem navigasi perkotaan memerlukan peningkatan yang mengubah permainan. Perhatikan kemajuan terkini dari Universitas Aeronautika dan Astronautika Nanjing, bekerja sama dengan mitra di Hong Kong dan Inggris, yang telah meluncurkan sistem integrasi GNSS/IMU/LO yang inovatif.
Diterbitkan dalam Navigasi Satelit , sistem ini menjanjikan penentuan posisi yang lebih akurat dan andal bagi kendaraan di lingkungan perkotaan yang kompleks – dan akan menjadi pengubah permainan bagi kota pintar di mana pun.
Sistem Navigasi Perkotaan: Menerobos Hambatan GPS
Sistem Satelit Navigasi Global (GNSS) telah lama menjadi andalan untuk pelacakan lokasi, tetapi sistem ini masih jauh dari kata sempurna di lanskap kota tempat bangunan dan infrastruktur menghalangi sinyal. Di lingkungan seperti itu, GNSS dan Unit Pengukuran Inersia (IMU) kesulitan untuk memberikan posisi yang konsisten dan tepat. Namun, studi baru ini memperkenalkan integrasi mutakhir GNSS, IMU, dan Light Detection and Ranging Odometry (LiDAR), yang mengatasi kekurangan sistem tradisional.
Melalui kombinasi unik GNSS dengan odometri LiDAR yang canggih, para peneliti telah membuat model yang meningkatkan akurasi posisi dengan memprediksi dan mengompensasi kesalahan secara real time. Tidak seperti sistem konvensional yang hanya mengandalkan sinyal GNSS, sistem ini secara dinamis memberi bobot pada data dari GNSS dan LiDAR, sehingga menyediakan navigasi yang dapat diandalkan bahkan di lanskap perkotaan yang padat.





