5G diakui sebagai pendorong utama Industri 4.0. Dengan kecepatan jaringannya yang tinggi dan konsumsi daya yang rendah, 5G memfasilitasi konektivitas setiap sensor di pabrik tanpa awak yang akan datang ke cloud. Konektivitas ini memungkinkan ekstraksi data untuk analisis, yang pada akhirnya mendorong kemajuan dalam kecerdasan buatan.
5G telah muncul sebagai katalisator transformasi manufaktur, yang menjawab tantangan dalam pengembangan pabrik pintar. Karakteristik 5G, termasuk kecepatan tinggi, latensi rendah, dan lebar pita frekuensi tinggi, telah menghasilkan pengembangan aplikasi canggih dalam industri manufaktur, yang sangat bergantung pada peralatan mesin dan sistem otomasi.
Pasar Aplikasi
Inspeksi tanpa awak sangat penting untuk mencegah kecelakaan dan kerugian keselamatan di pabrik. Drone dan kendaraan tanpa awak yang dikombinasikan dengan 5G, kamera, inframerah, atau penglihatan 3D dapat muncul sebagai alat yang efektif untuk mendeteksi masalah seperti pipa yang rusak atau kebocoran gas.
Pemantauan peralatan, dengan dukungan latensi rendah dan karakteristik koneksi besar 5G, memungkinkan pemantauan waktu nyata dalam proses produksi. Ini membantu dalam memperkirakan kualitas produksi dan mengoptimalkannya. Penggunaan hingga 25 miliar sensor dalam aplikasi industri pada tahun 2025, menurut Gartner, menyoroti peran 5G dalam menghubungkan sejumlah besar peralatan produksi.
Industri Masih Utamakan Stabilitas
Industri manufaktur saat ini berhati-hati tentang stabilitas 5G, terutama untuk peralatan produksi inti yang sangat bergantung pada komunikasi kabel. Sebagian besar pabrik menggunakan Ethernet kelas industri untuk stabilitas dan kecepatan, tetapi ini membatasi mobilitas dan fleksibilitas. Pengembangan Industri 4.0 menekankan manufaktur yang beragam dan fleksibel, menjadikan komunikasi nirkabel, yang difasilitasi oleh 5G, diinginkan untuk peralatan bergerak seperti kendaraan tanpa awak dan robot otonom.





